Wednesday, 19 December 2012

Retardasi Mental


1. Definisi Retardasi Mental
Banyak  sekali para ahli memberi definisi untuk retardasi mental, antara lain adalah:

        Menurut NOYES
Individu yang mempunyai keterbatasan kepribadian, sehingga mengakibatkan kegagalan untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya, yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan lingkungannya, menjadi seorang yang mandiri. Keterbatasan kemampuan intelektual ini dapat terjadi oleh karena gangguan perkembangan otak akibat pengaruh genetic, malnutrisi, penyakit-penyakit tertentu, trauma pada otak baik sebelum lahir, pada waktu proses kelahiran atau segera setelah kelahiran. Keterbatasan intelektual dapat juga terjadi oleh karena konsekuensi dari gangguan perkembangan akibat kurangnya stimulasi lingkungan, baik yang berasal dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan sosialnya (familial deprivation and social deprivation).

Menurut ROAN
Individu dengan keadaan keterbatasan kemampuan atau terhentinya proses perkembangan otak, yang berakibat terhentinya proses maturasi, sehingga individu tersebut tidak mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya atau terhadap harapan dari masyarakatnya, supaya dapat mempertahankan hidupnya tanpa dukungan dan bantuan dari luar. Yang penting di sini ialah terhentinya perkembangan fungsi intelek seseorang pada masa tumbuhnya yang ditandai oleh gangguan kemampuan belajar, penyesuaian social dan atau maturasi

Menurut MARAMIS
Individu dengan keadaan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak masa lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan (seperti juga pada demensia), tetapi gejala utama (yang menonjol) ialah intelegensi yang terbelakang.

Menurut PPDGJ – III
Suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.

Individu dengan retardasi mental antara lain:
1.         Mempunyai keterbatasan dalam kemampuan intelektual.
2.         Terdapatnya gangguan dalam masa perkembangan.
3.         Gangguan dapat berasal dari individu itu sendiri, dari factor lingkungan baik yang bersifat fisik  maupun karena kurangnya stimulasi.
4.         Terdapat kekurangan dalam kemampuan menyesuaikan diri dalam masyarakat.
5.         Tidak mampu hidup mandiri
6.         Dalam kehidupannya memerlukan bantuan orang lain.


2. Pedoman Diagnostik
1.  Tingkat kecerdasan (intelegensia) bukan satu-satunya karakteristik, melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda.
Meskipun ada kecenderungan umum bahwa semua keterampilan ini akan berkembang ke tingkat yang sama pada setiap individu, namun dapat terjadi suatu ketimpangan yang besar, khususnya pada penyandang retardasi mental.
Orang tersebut mungkin memperlihatkan hendaya berat dalam satu bidang tertentu (misalnya bahasa), atau mungkin mempunyai suatu area keterampilan tertentu yang lebih tinggi (misalnya tugas visuo-spasial sederahana) yang berlawanan dengan latar belakang adanya retardasi mental berat. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada saat menentukan katagori diagnosis.
2.     Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis, perilaku adaptif (yang dinilai dalam kaitan dengan latar belakang budayanya), dan hasil tes psikometrik.
3.   Untuk diagnosis yang pasti, harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari lingkungan social biasa sehari-hari.
4.    Gangguan jiwa dan fisik yang menyertai retardasi mental, mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan penggunaan dari semua keterampilannya.
5.       Penilaian diagnostik adalah terhadap “kemampuan umum” (global ability) bukan terhadap suatu area tertentu yang spesifik dari hendaya atau keterampilan.

3.           Tanda-tanda Utama Anak Retardasi Mental
Fisiknya tinggi tetapi berat badannya jauh di bawah rata-rata, koordinasi motoriknya kurang baik, ekspresi muka kosong dan kadang-kadang terdapat penyimpangan organ-organ fisik. Tingkah lakunya sangat berbeda dengan orang normal. Umumnya mereka sukar mengerti mana tingkah laku yang baik dan mana yang tidak baik.

4.            Etiologi dan Klasifikasi Retardasi Mental
Anak-anak dikatakan tergolong mental retarded jika taraf inteligensinya lebih rendah dari 70 (debil, embicil, idiot).
Umumnya keterbelakangan mental ini disebabkan oleh dua factor yaitu: Pertama factor endogen akibat pengaruh obat-obatan, penyakit syphilis, encephalitis, hydrocephalis, Kedua, factor exogen yaitu pada masa pre natal ibu yang mengandung mengalami infeksi penyakit TBC, Rubella atau penyakit menular lainnya yang kronis. Atau pada masa Post Natal, fasilitas anak maupun lingkungannya kurang menjamin untuk perkembangan taraf inteligensinya. Bisa juga karena pada masa umur balita bagian kepala terkena benturan benda keras sehingga saraf yang berhubungan dengan perkembangan otak terganggu.
Sumber lain  menyebutkan bahwa pada sekitar 50% kasus, etiologi tak diketahui. Sekitar seperempat kasus disebabkan oleh factor genetic, dan seperempat disebabkan oleh factor lingkungan, seperti meningitis bayi, malnutrisi janin, atau rubella maternal. Sindrom Down menyebabkan proporsi terbesar dari kasus genetic.

Klasifikasi retardasi mental:
Retardasi mental dapat dibagi atas empat macam, yakni: Retardasi mental ringan, retardasi mental sedang, retardasi mental berat dan retardasi mental sangat berat.
1.         Retardasi mental ringan
·         IQ antara 50 – 69
·     Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai tingkat, dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan kemandirian dapat menetap sampai dewasa. Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan bahasa tetapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan berbicara untuk keperluan sehari-hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai keterampilan praktis dan keterampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak lambat daripada normal. Kesulitan utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat akademik, dan banyak masalah khusus dalan membaca dan menulis.
·    Etiologi organic hanya dapat diidentifikasi pada sebagian kecil penderita.
·  Keadaan lain yang menyertai seperti autisme, gangguan perkembangan lain, epilepsy, gangguan tingkah laku, atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam berbagai proporsi.

2.         Retardasi mental sedang
·     IQ antara 35 – 49
·     Umumnya ada profil kesenjangan (discrepancy) dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam keterampilan visio-spasial dari pada tugas-tugas yang tergantung pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana.
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi: ada yang dapat mengikuti percakapan sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar mereka.
·    Suatu etiologi organic dapat diidentifikasi pada kebanyakan penyandang retardasi mental sedang.
·    Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan pervasive lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan tipe penatalaksanaan yang yang dibutuhkan. Epilepsi, disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun kebanyakan penyandang retardasi mental sedang mampu berjalan tanpa bantuan. Kadang-kadang didapatkan gangguan jiwa lain gangguan jiwa lain, tetapi karena tingkat perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan diagnosis dan harus tergantung dari informasi yang diperoleh dari orang lain yang mengenalnya.

3.         Retardasi mental berat
·    IQ antara 20 – 34
·    Pada umumnya mirip dengan retardasi mental sedang dalam hal: gambaran klinis, terdapatnya etiologi organic, dan kondisi yang menyertai, serta tingkat prestrasi yang rendah.
·   Kebanyakan penyadang retardasi mental berat menderita gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan saraf pusat.

4.         Retardasi mental sangat berat
·    IQ dibawah 20
·  Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, paling banter mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana.
·  Keterampilan visio-spasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan mencocokan mugkin dapat dicapainya, dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan rumah tangga.
·   Suatu etiologi organic dapat di-idetifikasi pada sebagian besar kasus.
·  Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang mempengaruhi mobilitas, seperti epilepsi dan hendaya daya ingat dan daya dengar. Sering ada gangguan perkembangan pervasive dalam bentuk sangat berat khususnya autisme yang tidak khas (atypical autism), terutama pada penderita yang dapat bergerak. 

Ciri Khas Anak Taraf Inteligensi Retardasi Mental
a. Taraf Inteligensi Idiot
Tidak dapat dilatih untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya sendiri dan tidak sanggup merawat dirinya sendiri. Tidak dapat melindungi dirinya terhadap bahaya, selalu harus dijaga karena mudah jatuh dan suka memakan benda apa saja yang berada pada tangannya. Masih ngompol baik siang ataupun malam dan umumnya harus dirawat seumur hidup.
b. Taraf Inteligensi Embicil
Umumnya anak embicil dapak berpakaian dan makan sendiri. Fungsi bicaranya terganggu karena itu perlu dilatih secara sabar. Sebagian besar mereka masih dapat diajar membaca, menulis dan mengerjakan pekerjaan keterampilan praktis.
c. Taraf Inteligensi Debil
Mereka lebih mudah diajar mengurus dirinya daripada anak idiot dan embicil. Mereka dapat membaca, menulis dan berhitung walaupun lamban. Mereka dapat membantu pekerjaan dapur dan pekerjaan lainnya yang tidak begitu menuntut berfikir, misalnya menolong membawakan barang, membantu membersihkan rumah dan keterampilan praktis lainnya.

5.            Gambaran Penyerta
Gangguan mental lain (khususnya gangguan perkembangan mendalam), gangguan hiperaktivitas defisit-perhatian, dan gangguan kebiasaan/stereotipi mempunyai prevalensi yang tinggi. Dapat ditemukan pola perilaku tertentu, termasuk pasivitas, ketergantungan, toleransi frustasi-rendah, dan keagresivan dengan kontrol impuls yang buruk. Gangguan neurologik spesifik mempunyai temuan karakteristik.

6.           Penanggulangan
Penanggulangan terutama ditujukan terhadap usaha-usaha pencegahan atau prevensi. Prevensi merupakan usaha penanggualangan yang terpenting. Usaha-usaha dapat ditujukan baik baik dalam aspek biologik (fisik), aspek psikologik, aspek pendidikan dan aspek sosial ekonomi.
Usaha-usaha pencegahan dibagi menjadi 3 kelompok:
1.     Pencegahan primer
Terutama ditujukan terhadap orang tua, antara lain:
1.  Pendidikan kepada masyarakat terutama menyangkut masalah-masalah: sebab-sebab, kondisi-kondisi fisik, psikologik, sosial, pendidikan serta penanggulangan.
2.  Program sosial ekonomi
Meliputi pelayanan sosial, pelayanan pendidikan
3.  Program pelayanan medis
Meliputi: pelayanan ibu hamil, pelayanan anak-anak balita
4.  Konsultasi perkawinan
Termasuk disini: konsultasi genetic

2.   Pencegahan sekunder
Terutama ditujukan kepada anak-anak, antara lain:
·    Deteksi dini dan pengobatan terhadap fenilketonuria, galaktosemia, hypothyroidisme.
·   Pengobatan secara seksama dan optimal terhadap infeksi-infeksi pada otak, trauma kepala, hidrosefalus dan epilepsy.
·   Deteksi dini dan pengobatan gangguan panca indra, gangguan neurologik dan gangguan jiwa pada usia sekolah.
·    Identifikasi anak-anak yang mengalami deprivasi psikososial.
3.   Pencegahan tertier
Terutama ditujukan pada anak-anak, antara lain:
·         Pengobatan terhadap masalah emosi dan tingkah laku.
·         Konsultasi kepada orang tua, tentang pola asuhan di rumah
·         Perawatan anak secara sementara, untuk tujuan pendidikan khusus dan pengobatan.
·         Penempatan pekerjaan dan rehabilitasi atau latihan dalam melaksanakan pekerjaan
·         Rehabilitasi fisik untuk mengurangi derajat kecacatan.
·         Pendidikan khusus yang sesuai dengan kemampuannya.


KESIMPULAN
Individu dengan retardasi ringan sering mengembangkan keterampilanm yang cukup untuk memungkinkan kehidupan independen, termasuk kebebasan kerja penuh; seringkali anak dengan IQ antara 55 dan 70 tidak dipilih dari populasi umum. Individu dengan retardasi lebih berat lazimnya memerlukan dukungan yang besar dari orang dewasa seumur hidupnya.
Dalam hal ini termasuk dukungan keluarga, penempatan sekolah atau kehidupan yang sesuai, dan intervensi perilaku, kemungkinan memerlukan farmakoterapi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.  Buku Saku Psikiatri, EGC-Jakarta 1997.
2.   Dr. Ismed Yusuf, “Retardasi mental”. Universitas Diponegoro-Semarang 1991.
3.  DR. Kartini Kartono, “Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Sexual”. Mandar Maju bandung 1984.
4.   Dr. Rusdi Maslim, “Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa”. Maret 2000.
5.   Drs. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, “Perkembangan Intelegensi Anak dan Pengukuran IQ-nya”. Angkasa Bandung 1993.
6.   Drs. Ny. Singgih D Gunarsa, “Psikologi Anak Bermasalah”.  BPK Gunung Mulia 1982.
7.   Irving B Weiner, “Child and Adolcscent Psychopathology”. University of Denver.
8.  Moskowitz, Merle and Arthur R. Orgel, “General Psycology”. New York: Houghton Mifflin Company, 1969.
9.   WF. Maramis, “Ilmu Kedokteran Jiwa”. Universitas Airlangga-Surabaya 1995.

ads

Ditulis Oleh : Saa Hari: 12/19/2012 08:34:00 pm Kategori:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih telah membaca artikel dari blog ini. Jika ada yang kurang dipahami dari artikel di atas, silahkan berdiskusi melalui kotak komentar di bawah ini, insyaAllah akan saya jawab :)

 

Pembaca

Blog Archive